Links

+ Nofriza's Blogger
+ Muslim Blogger Indonesia
+ Koleksi Puisiku
+ Constantio Community
+ Nindiyasari's Personal Website
 

SPONSOR









Powered by Blogger

 
Wednesday, June 08, 2005

Maaf.... (Sori Belum Kelar.... Bagian I)

"Pergi !!!" Seru Verlina lantang, Michael mendekatinya ragu, Ve hanya terdiam dan mematung membelakangi Michael yang terenyuh melihat sikap Ve yang dingin.

"Ve.... aku butuh penjelasan.... Aku mohon !!!" Michael meraih tubuh mungil itu dan merangkulnya erat. Ve langsung menghempaskan pelukan itu dengan kasar. "VE !!!" Michael tampak geram dengan sikap Ve yang semakin aneh.

"Pergi.... Kumohon !!!!" Air matanya tak terbendung lagi, sesak menyiksa tubuh Ve hebat. Ada sangkal dalam dirinya untuk menghilangkan Michael dari semua harapannya. Tapi kini itu harus dilakukannya untuk kebaikan Michael sendiri.
"Dan kumohon jangan pernah kembali sampai kau selesai...." Teriak Ve lantang sambil membuang mukanya.

"Ve.... Aku tau kamu akan marah jika tahu aku kuliah di Ansterdam, tapi bukankah dulu kamu menyetujuinya, dan kamu juga akan ikut bersamaku ke sana ??" Sela Michael tak mengerti.

"Aku tak bisa...." Ujar Ve lemas, tubuhnya semakin tak bertenaga, ia seakan ingin terjatuh dari pijakan kakinya yang semakin gemetar.

"Kenapa Ve.... Kamu sudah berjanji kan ?"

"Michael.... ???"

"Ya...." Michael menyiritkan kening dan menunggu kata-kata selanjutnya dari bibir Ve yang putih memucat. Ve menatapnya nanar penuh keputusasaan, bibirnya gemetar dan air matanya tak berhenti mengalir.

"Apa kau mencintaiku ?" Tanya Ve tulus, Michael tersenyum lebar dan dengan tatapan penuh cinta, ia menggangguk.

"Sangat.... Bahkan teramat sangat." Michael menghapus air mata Ve yang terus mengalir, Ve tak bergeming, membisu hingga....

"PERGIIII....!!!!" Teriak Ve lantang dan menghenyakkan tubuh Michael hingga terhuyung ke belakang. Michael menggigit bibir dan kemudian hanya mendesah lemas.

"Aku tak mengerti ada apa dengan dirimu Ve...." Michael merapikan bajunya yang sedikit kusut.
"Baik, aku akan pergi.... Aku akan mengikuti semua kemauanmu, tapi asal kau tahu aku akan selalu mencintaimu, sampai kapan pun. Tapi bolehkah aku mengetahui ada apa denganmu, hingga kelakuanmu aneh seperti ini ?"

"Tidak...." Jawab Ve datar. Michael pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Ia menatap kosong kearah dedauan yang tertiup semilir angin yang sejuk. Ia tahu Ve masih menyayanginya, hanya perlu waktu untuk membuat Ve kembali seperti dulu. Ia kemudian mengecup kening Ve lembut.

"Ini yang terakhir...." Ada bulir air mata yang ingin mengalir di mata coklat Michael yang indah, ia segera mengusap dengan tangannya yang kekar, kemudian membelai wajah Ve dengan penuh kasih.
"Biar kupotret wajah manismu hari ini Ve, kusimpan dalam hati, biar potretmu itu akan menemani hari-hariku di sana." Michael mendesah berat.
"Aku akan menghubungimu selama aku disana."
Ve menundukkan kepalanya dalam-dalam, memejamkan mata sambil merasakan perih dadanya yang ia tahan sejak tadi. Michael terdiam beberapa saat, hingga kemudian Ia membalikkan tubuhnya bersiap untuk pergi.

"Jangan pernah menghubungiku." Ve membalikkan badannya untuk menutupi kehampaan yang kini ia rasakan.

"Ve...." Michael terngaga mendengar ucapan itu. Lalu ia hanya mendesah pendek dan kemudian menepuk bahu Ve yang masih tetap membelakanginya.

"Baik jika itu kemauanmu, aku tidak akan pernah menghubungimu selama aku disana, sama sekali !!!, tidak kepadamu, sahabatmu Dizhi...." Ia sejenak memandang Dhizi yang sejak tadi hanya terdiam melihat pertengkaran mereka. Dhizi tampak begitu gelisah, sama seperti halnya kegelisahan yang menyelimuti Michael saat ini.
"....ataupun keluargaku, sekalipun." Lanjutnya sambil tertunduk menatap dalam rerumputan taman rumah Ve yang sangat luas itu. Ia pun mulai melangkah pergi, meninggalkan Ve dan juga Dhizi yang kini menyesali sikap Ve yang sungguh aneh itu.

"Tunggu Ve...." Cegah Dhizi ketika melihat Ve mulai melangkah memasuki teras rumahnya. Ve hanya berdiri tak bergeming, ada isak kecil yang terdengar memilukan hati Dhizi.

"Ve...." Dhizi menghampiri Ve yang semakin terisak tak terkendali.

"Kenapa loe melakukan hal itu Ve ??" Dhizi membalikkan tubuh kecil Ve yang gemetar. "Loe tahu kelakuan loe itu sungguh membuat hati Michael sangat sedih."

"Gue tahu" Ve memandang Dhizi nanar, dan kemudian memeluk erat sahabat baiknya itu. "Tapi gue gak mau ia menderita bila di sampingku."

"Siapa yang bilang seperti itu Ve ?" Dhizi kini merangkulnya lebih erat mencoba membuat tubuh kecil itu kembali tegar seperti dulu ia mengenal Ve, Ve yang tegar, Ve yang ceria dan Ve yang selalu saja membuat Dhizi kagum dengan semua kerendahan hatinya dan keikhlasannya sebagai manusia.
"Loe tahu itu tidak benar khan ?"

"Dhizi....." Ve melepaskan rangkulannya dan kini ia terduduk tak berdaya di hadapan Dhizi.
"Gue sangat kehilangan Michael." Dia menjerit kecil dalam kepalan tangannya yang meninju tanah beberapa kali. Dhizi terdiam dan kemudian mata birunya yang terlukis indah di wajah Jermannya yang manis itu pun kini mengalir bulir air mata melihat ketidak berdayaan seorang Verlina Herawati.

"Ve.... kamu seharusnya...."

"Aku nggak tau harus berbuat apa, apakah aku harus menahannya disini untuk menemani diriku yang sudah rapuh ini, ataukah harus merelakan kepergiannya yang jelas-jelas kini telah menghancurkan hatiku ?"

"Ve.... Kau sudah menentukan pilihanmu kan ?"

"Dan aku kini menyesalinya ?"

"Ini untuk kebaikan Michael bukan ?"

"Iya.... Demi Michael, demi kebaikan Michael." Ve kini menggigiti buku-buku jarinya yang lentik memanjang.
"Zi..... apa aku salah Zi ?"

"Kamu benar Ve....." Dhizi membimbing tubuh mungil itu ke dalam, membiarkan Ve terisak dengan sejuta kegalauan dan kekecewaan yang kini tertumpu padanya. Mama Ve tampak gelisah melihat anaknya yang menangis pilu. Ve membenamkan wajahnya dalam pelukan ibundanya yang kini terus membelai rambut panjang Ve yang dikepang menjuntai ke pinggangnya yang ramping.

"Ve.... Istigfar ya Nak !!" Seru Mama Ve sambil menciumi pipi merah anaknya. Ve hanya berucap pelan, melafaskan nama Allah dengan sendu.
"Jangan pernah sesali apa yang telah kamu lakukan, kamu sudah melakukan hal yang tepat." Mama menatap mata Ve sambil tersenyum, dan Ve hanya tertunduk dengan ratapannya yang semakin memilukan.
"Ini demi Michael kan ?" Ve mengganguk kecil.
"Jadi, kamu telah melakukan hal yang tepat, walaupun mungkin caramu yang tidak tepat, sayang." Mama kembali merangkulnya.
"Tapi Mama tak menyalahkanmu."

"Sudahlah Ve..... kondisimu semakin lemah nantinya." Sanggah Dhizi mengingatkan.

"Tuh, dengarkan kata-kata Dhizi.... Memangnya kamu gak kasian sama dia, dia sampai kurus tuh melihat kamu seperti ini." Mama tersenyum diiringi tawa Dhizi yang dipaksakan dan sekelumit senyum tersibak dari kesedihan Ve.

"Dhizi memang sejak dulu kurus Ma."

"Oh ya ?" Mata Mama Ve membulat seakan tak percaya. "Mama dulu melihatnya segemuk Mama." Dhizi terkekeh dan Ve tampak lebih tenang.
"Sudah waktunya sholat Dzuhur." Mama merapihkan rambut Ve.
"Sebaiknya kalian sholat, Ve.... sholat ya, untuk menenangkan fikiranmu, dan sholat juga baik untuk bathinmu." Ve tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Dhizi pun mulai menghapus air mata yang membanjiri wajahnya dan bersiap-siap untuk sholat jamaah dengan keluarga Ve di hari minggu yang sendu ini.

DZUHUR..... DZUHUR..... Sholat dulu akh.... See Ya

 
Oleh : constantio ketika 10:17 PM
0 Komentar:

Post a Comment

<< Home


 
 

Cerpen Sebelumnya


Copyright by Constantio @ 2005. All Right Reserved