Links

+ Nofriza's Blogger
+ Muslim Blogger Indonesia
+ Koleksi Puisiku
+ Constantio Community
+ Nindiyasari's Personal Website
 

SPONSOR









Powered by Blogger

 
Thursday, June 09, 2005

Keluhan Dita pada Tuhan (Bagian III)

Siang ini aku merasa sendiri.... hampa.... aku ingin menelponnya lagi, tapi aku takut aku tak bisa menahan diri. Aku hanya menelpon sahabatku dan menemukan ia tertawa disana mencoba menghibur, ketika ia tahu warna suaraku yang berbeda, tanpa bertanya ia langsung menghujamku dengan lelucon-leluconnya yang bisa membuatku tersenyum. Akh.... tak sendiri ternyata aku berjalan, aku pun menarik telpon kembali menekan tombol-tombol itu, dan mendengar suara Bunda disana, begitu merdu dan menyejukkan.

"Bunda.... lagi apa ?" Tanyaku dengan suara sedikit lebih riang.
"Sedang membereskan beberapa arsip saja kok Nak, kamu sendiri masih sibuk di kantor ?"
"Gak kok Bunda." Jawabku cepat
"Ada apa tumben telpon Bunda, biasanya Bunda terus yang telpon kamu, ada masalah ?" Tanya Bunda lebih bijak, sesekali aku mendengar carikan-carikan kertas yang mungkin sedang dirapihkan Bunda di kantornya.
"Cuma pengen dengar suara Bunda aja kok." Rasa ingin menangis, lalu aku segera ingin menutup pembicaraan kami.
"Sudah nanti cerita saja dirumah, pasti masalah Jacky kan ? tapi kamu sudah telpon dia pagi ini kan seperti biasanya ?"
"Iya Bunda, sudah...." Jawabku lirih. Akh.... Hanya Bunda yang mungkin mengerti getir hatiku selain Tuhanku. "Nanti Dita telpon Bunda lagi yach."
"Iya Nak, jangan lupa makan siang, ingat sudah mau jam dua belas yach. Jaga kesehatan, itu penting. Kamu anak Bunda tercinta dan Bunda tidak ingin kamu sakit nantinya, jangan membantah jika dibilang sama Bunda yach." Cecar Bunda seperti biasanya.
"Iya Bunda, sudah dulu ya. Dagg Bunda."

Aku menutup telpon dan ada ketenangan disini, disudut hati yang semakin gersang. Aku menulis keluhan lagi pada Tuhan.
"Tuhan.... Detik demi detik mengapa aku begitu merasa tak berarti, bisakah kau bangunkan istana nyata untuk semua kisah semu hidupku yang Kau ciptakan."
Aku menatap layar komputerku yang kosong, ingin menulis semua rasa kepadanya.... tapi aku tak kuasa, berapa lama akan berlangsung rasa ini, esok ? sebulan lagi ? setahun lagi ? ataukah seabad lagi ? Aku ingin menemukan cinta sejatiku, hanya itu tak lebih dari sebuah pencarian panjang yang buat aku merana. Cinta.... kasih..... sayang.... rangkaian rasa yang akan buatku semakin kecil, semakin kecil dan semakin kerdil untuk melawan dunia.

Siang ini matahari semakin terik, aku menatap dari jendela kantorku.
"Mentari.... mengertikah engkau akan deritaku ?? Tuhanku jangan siksa aku lagi, jika aku ingin aku ingin menikam diriku dengan belati, karena ini lebih perih dari tusukan belati. Tuhan jangan bermain dengan rasaku, aku lelah.... aku lebih memilih menghadapmu untuk semua duka ini."

Handphoneku berbunyi dan dia disana mengirimku sebuah sms yang mungkin tak akan pernah ku sangka sebelumnya.
"Makan siang !!!!"
Walau hanya sebuah kalimat pendek tanpa arti wajahku berseri tapi mengapa hatiku makin perih.....

 
Oleh : constantio ketika 8:08 PM
0 Komentar:

Post a Comment

<< Home


 
 

Cerpen Sebelumnya


Copyright by Constantio @ 2005. All Right Reserved